Juara 2 Karya Lomba Esai Nasional IBC 2023 HMPS PBS UIN RMS Surakarta Oleh Anggi Ariska Putri Program Studi Akuntansi Syariah Fakultas Ekonomi dan Bisnis Islam Universitas Negeri Raden Mas Said Surakarta

Prespektif Aksiologi Terhadap Kontribusi
Dosen dalam Perbaikan Etika dan Moral Mahasiswa

Oleh Anggi Ariska Putri
Program Studi Akuntansi Syariah
Fakultas Ekonomi dan Bisnis Islam
Universitas Negeri Raden Mas Said Surakarta

Zaman digital atau biasa disebut dengan era digital, perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi (IPTEK) semakin hari semakin maju dan memiliki dampak besar dalam kehidupan. Informasi dapat diakses dengan cepat dan mudah, komunikasi bisa dilakukan di mana dan kapan saja, banyak memberikan peluang dalam berbagai bidang, serta segala kegiatan dapat dilakukan secara efektif dan efisien. Tentunya hal ini sangat bermanfaat dalam kehidupan, baik dalam sektor budaya, ekonomi, pemerintah, dan pendidikan. Ilmu pengetahuan dan teknologi (IPTEK) dapat memberikan dampak positif bagi penggunanya, apabila digunakan dengan bijaksana dan penuh pertimbangan moral. Namun, masyarakat dan generasi muda banyak yang terlena terhadap digitalisasi.
Fenomena yang kini banyak terjadi di Indonesia adalah krisis moral terutama pada generasi muda. Padahal, generasi muda menjadi generasi penerus atau pewaris bangsa, apabila generasi mudanya baik maka bangsanya juga akan baik. Dalam hal ini, para tenaga kependidikan seperti guru maupun dosen memiliki peranan penting untuk menanamkan nilai moral pada generasi muda, terutama mahasiswa. Mahasiswa menjadi salah satu elemen penting dalam kemajuan suatu negara. Mahasiswa yang bermoral dan berintegritas adalah calon intelektual atau cendekiawan muda yang akan membawa perubahan besar dalam kehidupan peradaban bangsa menjadi lebih kokoh dan kuat.
Mahasiswa merupakan agen perubahan dalam kehidupan. Pembentukan etika dan moral pada mahasiswa sangat penting agar memiliki budi pekerti luhur serta karakter yang unggul. Salah satu lingkungan yang dapat menjadi wadah untuk pembentukan karakter tersebut adalah di perguruan tinggi dan peran dosen. Ketika dosen menyampaikan ilmu baik secara bertemu langsung maupun memanfaatkan teknologi, ilmu tersebut menjadi produk dalam kegiatan berpikir. Semakin berpikir dan diasah, mahasiswa akan menemukan jati dirinya sehingga dapat menghayati hidupnya. Memang tidak mudah, terkadang beberapa masalah yang menghampiri menjadi beban pikiran tersendiri dalam menghadapi kenyataan hidup dan hasil dari pemikiran tersebut merupakan bagian dari sejarah kebudayaan.
Buah pemikiran dari beberapa masalah yang dihadapi mahasiswa memang sangat beragam. Meskipun buah pemikiran tersebut terlihat majemuk, pada dasarnya upaya dalam mendapatkan pengetahuan terdiri dari tiga pokok masalah yaitu rasa ingin tahu (apa pengetahuaun yang ingin diketahui?), cara memperoleh (bagaimana proses atau cara memperoleh pengetahuan tersebut?), dan manfaat atau dampaknya (apa implikasi nilai pengetahuan bagi diri sendiri dan orang lain?). Dosen sangat berperan dalam memberikan arahan kepada mahasiswa supaya dapat mengalir di aliran yang tepat dan pemikiran tidak bercabang, melainkan fokus terhadap satu tujuan yaitu mencari ilmu pengetahuan dan mengamalkannya.
Berdasarkan landasan pemahaman aksiologi dalam filsafat ilmu, yaitu melalui ilmu pengetahuan diharapkan mahasiswa mampu menunjukkan nilai-nilai yang layak untuk diperjuangkan, ilmu pengetahuan tidak membebani pemikiran manusia, melainkan mempertajam pemikiran manusia dalam menghadapi berbagai permasalahan kehidupan sehingga dapat menemukan pemecahan atau solusi yang bermanfaat bagi kehidupan (Wahana, 2016: 13). Mahasiswa berkualitas memiliki pola pikir yang kritis dan rasa ingin tahu yang tinggi, serta diimbangi dengan etika moral yang baik. Di era digital, etika dan moral mahasiswa mulai memudar sedikit demi sedikit, peran dosen sangat dibutuhkan agar nilai-nilai tersebut dapat melekat dalam diri para pemuda.
Etika merupakan suatu hal tentang baik dan buruk. Aksiologi dalam filsafat ilmu adalah salah satu cabang ilmu yang membahas mengenai etika dan moral. Etika memiliki tiga arti yaitu (1) nilai moral menjadi pedoman bagi seseorang dalam mengatur perilakunya, (2) penyelidikan terhadap perilaku moral didasarkan pada tiga pendekatan, yaitu etika diskriptif, etika normatif, dan etika metaetika, (3) etika tidak hanya bersifat teoritis, tetapi juga konkret terhadap kehidupan, oleh karena itu terdapat beberapa manfaat yang perlu diperhatikan dalam kekonkretannya seperti tidak tergesa-gesa dalam menerima atau menolak pandangan baru, memperluas wawasan pada perubahan dalam dimensi kehidupan masyarakat, dan menyikapi gelombang modernisasi. Etika memiliki kaitan erat dengan moral yang maknanya adalah dasar atau tonggak seseorang untuk bertindak menjadi lebih baik. Ajaran moral dapat bersumber dari beberapa hal, antara lain ajaran agama, orang tua, dosen, guru, nasihat orang bijak, dan lain-lain. Pada intinya, sumber ajaran moral berupa agama, adat istiadat, ideologi, dan tradisi.
Dosen memiliki tanggung jawab untuk menumbuhkan karakter mahasiswa agar semakin berkualitas dan dosen harus memiliki inisiatif yang kuat terhadap langkah perubahan etika moral yang terjadi dilingkup perguruan tinggi. Apabila mahasiswa mulai menunjukkan etika dan moral yang tidak baik, maka dosen dapat memberikan masukan dan saran tanpa harus mempermalukan ataupun menyinggung perasaan, melainkan memberi tahu dengan cara yang bijaksana seperti menjelaskan tentang nilai benar dan salah. Hal ini juga sependapat dengan etika dalam aksiologi ilmu yang dikelompokkan dalam tiga jenis, yaitu nilai logika (benar-salah), nilai etika (nilai mengenai baik-buruk), dan nilai estetika (nilai menganai indah-jelek). Hal tersebut harus diajarkan oleh dosen kepada mahasiswa agar dapat mengambil keputusan yang tepat sebelum bertindak, terutama pada era digital ini.
Sebelum menjadi seorang dosen, dosen adalah mahasiswa yang berjuang menggapai impian menjadi seorang dosen. Berbagai rintangan dan tantangan telah berhasil dilewati dengan kepercayaan dan usaha yang nyata. Setelah menjadi seorang dosen, terdapat beberapa kode etik yang harus dipenuhi dengan tujuan salah satunya menjalankan kaidah moral dan keilmuan. Proses dan pengalaman dalam perjuangannya tersebut, dapat menjadi suri teladan baik bagi anak didiknya. Apalagi dengan adanya teknologi yang semakin canggih dapat dikelola dan dimanfaatkan sebagai media kegiatan belajar dosen dan mahasiswa. Dengan adanya esai ini, diharapkan tenaga kependidikan seperti dosen dapat meningkatkan etika dan moral mahasiswa supaya menjadi generasi yang berkualitas, berkarakter, dan berbudi pekerti luhur.
DAFTAR PUSTAKA
Wahana, Paulus. 2016. Filsafat Ilmu Pengetahuan. Yogyakarta: Pustaka Diamond.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Sosialisasi Program PPL dan MBKM: Bekal Mahasiswa PBS Hadapi Dunia Profesional

SOSIALISASI TUGAS AKHIR PRODI PERBANKAN SYARIAH

Rapat Evaluasi Kinerja 1 HMPS PBS 2025